Blog Kumpulan Informasi Seputar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SMP

Cara Mengkritik dan Memuji Karya Seni dengan Bahasa yang Lugas dan Santun

ilmubindo.com_ Keindahan sebuah karya seni kadang-kadang dapat membuat kita terkagum-kagum. Misalnya, saat kita melihat sebuah lukisan, kemudian berkata, "Wah, hebat yah lukisannya?" Kekaguman dengan ucapan yang demikian sebenarnya termasuk kegiatan mengapresiasi karena dalam kegiatan itu kita telah menikmati sebuah keindahan. Namun, jika kita berkata , "Lukisan ini sangat indah, komposisi warnanya sangat sesuai dengan aslinya, begitu alami, tetapi sayang ada beberapa komposisi bentuk yang kurang pas."; kegiatan itu sudah termasuk kritik.

Dalam artikel ini, kalian akan belajar mengkritik dan memuji karya seni dengan bahasa lugas dan santun. Biasanya, kata kritik ini berkonotasi protes dan sanggahan. Padahal asal kata kritik itu sendiri dari bahasa Latin, yaitu cretia yang berarti memilah dan menerangkan. Kritik merupakan sebuah usaha bagaimana seseorang dapat menunjukkan, mengurai, dan memilah titik-titik positif dan negatif sekaligus. Namun, yang paling penting, setiap kali menunjukkan kelebihan dan kekurangan perlu diungkapkan alasan-alasan yang logis. Oleh karena itu, suatu kritik dikatakan wajar tatkala disampaikan untuk mencari solusi sehingga tidak terkesan mengejek atau mencibir. Kritik pun dapat juga diakhiri dengan pujian.

Cara Mengkritik dan Memuji Karya Seni dengan Bahasa yang Lugas dan Santun
 www.ilmubindo.com

Coba perhatikan kritik terhadap puisi berikut ini!

Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang 
Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang.

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda.

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajah sendiri yang tak dikenalnya.

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.

                                                                          Karya: Toto Sudarto Bachtiar

Ungkapan dalam bentuk kritik dari puisi di atas, seperti berikut ini!
 
Pada bait pertama, pengarang berusaha mengonkretkan dengan perbandingan. Pahlawan yang telah gugur dibandingkan dengan pernyataan Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring/Tetapi bukan tidur , sayang. Dari pernyataan tersebut tampak lebih jelas bahwa dia (pahlawan) digambarkan seperti orang yang sedang terbaring, tetapi pembaringannya itu ternyata tidak tidur. Dengan demikian, secara nalar orang yang terbaring selama sepuluh tahun, bukan tidur, tetapi meninggal.
 
Pengungkapan dengan perbandingan seperti itu terasa lebih hidup. Dengan ini terlihat pada citraan-citraan yang terdapat dalam puisi di atas membuat pembaca seperti melihat kejadian itu secara nyata. Pada larik selajutnya juga diungkapkan dengan cara yang sama. Berikut contoh lariknya/Sebuah lubang peluru bundar di dadanya/Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang//. Penyebab kematian sang pahlawan yang tertembak dikonkretkan dengan citraan yang sesuai. Puisi Toto Sudarto Bachtiar yang kaya akan citraan di atas sayang tidak ditunjang dengan persamaan bunyi (rima) sehingga nilai keindahan, terutama kemerduan bunyi belum terasakan.
1.Buatlah kritik seni tentang puisi berikut ini!

Secari Kelam

Secarik kelam yang kau lewatkan di sini telah mengubah 
Damai warnanya telaga
Secarik kelam yang mengakhrnya serentet nama-nama
Pada duka yang purba telah pamit dan hijrah ke yang lain
Benua
Selembar kelam lain yang memikul penat rimba besok
Akan kembali mengabarkan seekor singa yang jatuh ke
Jurang hanya oleh sengatan kala.
Secarik kelam dan selembar cahaya selalu main teka-teki tentang
Mimpikah yang nyata, sementara katak-katak bersorak,
Seorang ibu tua mengelus dada

                                                       Karya D. Zamawi Imron, 1995

2. Amatilah lukisan berikut ini!

Cara Mengkritik dan Memuji Karya Seni dengan Bahasa yang Lugas dan Santun
Tulislah sebuah kritik lukisan tersebut dengan alasan yang logis dan santun.

3. Amatilah lukisan berikut ini!

Cara Mengkritik dan Memuji Karya Seni dengan Bahasa yang Lugas dan Santun
Tulislah sebuah pujian lukisan tersebut dengan alasan yang logis dan santun


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Cara Mengkritik dan Memuji Karya Seni dengan Bahasa yang Lugas dan Santun