Blog Kumpulan Informasi Seputar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SMP

Membaca Teks Cerita Anak

ilmubindo.com Pernahkah kamu membaca cerita anak? Dapatkah kamu menceritakan kembali dengan menyebutkan hal-hal yang menarik dan tidak menarik dalam cerita tersebut? Mampukah kamu menceritakan cerita tersebut dengan bahasamu sendiri?

Bacalah kutipan cerita anak berikut dengan cermat!

 Misteri Kapal Pecah

Membaca Teks Cerita Anak
Oleh Andi Amal

Badai laut tengah menerjang kapal Parameswara sehingga tergoncang keras. Banyak air laut masuk ke badan kapal membanjiri lantai di sekitar geladak di mana Kapten Zen berdiri.

“Zetaaa! Cepaaaaat gulung layar! Mambooo… cepat periksa ruang penyimpanan harta dan berjagalah di sana!” perintah Kapten Zen kepada kedua anak buahnya.

Zeta dengan gesit melaksanakan perintah Kapten Zen dibantu beberapa awak kapal. Layar berhasil digulung. Untuk sementara berhasil selamat. Mambo bergegas menuju ke ruang penyimpanan harta. Badai masih mengamuk. Cukup lama Kapten Zen mengawasi kapal dari geladak. Tiba-tiba Darko, orang kepercayaannya datang tergesa-gesa. “Ada apa, Darko?” Tanya Kapten Zen.

“Lapor, Kapten! Ada kebocoran di lambung kapal!” lapor Darko terengah-engah. Tampaknya ia kecapaian sekali.

“Apaaa? Di sebelah mana pecahnya, Darko? Mengapa kau tidak segera melapor?” Kapten kaget sekali mendengar laporan Darko. “Euu…eu…anu Kapten! Saya menyuruh dulu para awak kapal untuk mengamankan barang-barang kita yang ada di luar kabin. Yang bocor lambung kapal di dekat ruang penyimpanan harta, Kapten!” jelas Darko gugup.

Kapten Zen heran melihat Darko gugup. Tetapi ia diam saja. Kapten Zen bergegas menuju lambung kapal. Saat Kapten Zen tiba di sana, ia terkejut melihat Mambo terkapar. Ada sebilah kapak di samping tubuhnya. “Hmm, agaknya seorang pengecut telah memukul Mambo dari belakang,” guman Kapten Zen. Kepala Mambo terluka. Kapten Zen mengamati kapak yang tergeletak di samping Mambo dengan cermat. Kapak itu tampaknya milik Mambo.

Dengan cepat Kapten Zen berhasil menemukan lambung kapal yang bocor itu. Ada beberapa lubang. Tampaknya ada retakan di sekeliling lubang-lubang itu. Jika dibiarkan akan semakin parah dan mengakibatkan kapal tenggelam.

Kapten Zen marah sekali. Jelas terlihat kalau lambung kapal itu sengaja dilubangi dengan benda tajam. Yang jelas bukan dengan kapak. Bentuk lubangnya terlihat kecil membulat dan tembus ke dasar. Seolah dilontarkan dari atas dengan kecepatan tinggi. Kapten Zen lalu memeriksa ruang penyimpanan harta. “Hmm, ada sekantung permata yang hilang,” desisnya. Badai telah reda. Kapal Parameswara berhasil diselamatkan. Para awak sibuk memperbaiki bagian kapal yang rusak. Kapten Zen berdiri di geladak. “Dengar, hai awakku sekalian! Di kapal ini ada seorang pengkhianat yang telah memecahkan lambung kapal dan mencuri sekantung permata! Siapa yang merasa melakukannya, lekas mengaku!” teriak Kapten Zen keras dan tegas.

Para awak kapal yang sedang sibuk bekerja terperanjat kaget. “Baik. Begini saja. Yang merasa tidak bersalah, lekas acungkan tinggitinggi senjata kalian!” perintah Kapten Zen. Para awak kapal kembali saling pandang. Tetapi kemudian segera mengacungkan senjata mereka tinggitinggi ke udara, takut dianggap bersalah. Berbagai senjata diacungkan ke udara. Ada pedang, golok, kelewang, dan sebagainya.

Kapten Zen memerhatikan semua awak kapal itu. Semua telah mengangkat senjatanya. Hmm, kalau begini siapa pengkhianatnya?” Kapten Zen berpikir keras. Tiba-tiba ditengoknya Darko yang berdiri di sebelahnya.

“Mana senjatamu, Darko? Mengapa tak kau tunjukkan?” Tanya Kapten Zen tajam.

Darko terkejut dan tampak gugup. Dengan cemas diperlihatkannya senjatanya. Sebuah panah tanpa anak panah! Darko tidak bisa menunjukkan di mana anak panahnya berada. Kapten Zen tersenyum. Ia tahu sekarang siapa pengkhianatnya.

Setelah didesak, Darko akhirnya mengaku bahwa dia yang membocorkan lambung kapal dengan menggunakan anak panah. Ia berharap kapal tenggelam, karena ia telah mencuri permata dari ruang penyimpanan harta. Tadinya ia sudah bersiap untuk melarikan diri dengan perahu kecil yang telah disiapkannya. Tetapi Mambo datang. Untunglah pria itu berhasil dipukulnya.

Karena tidak sempat melarikan diri lagi, Darko melaporkan ada kebocoran kepada Kapten Zen dengan harapan Mambo yang akan disalahkan. Oleh karena itu, Darko meletakkan kapak di samping tubuh Mambo yang pingsan. Tidak ada orang lain yang mengetahui ketika perkelahian itu terjadi.

Darko akhirnya dihukum sesuai dengan kesalahannya. Atas keberaniannya, Mambo diangkat menjadi orang kepercayaan Kapten Zen yang baru.

Sejak saat itu, para awak kapal Parameswara tidak pernah ada lagi yang berani berkhianat kepada Kapten Zen. Mereka tahu, Kapten Zen cerdik, adil, dan gagah perkasa. Mereka sangat bangga dipimpin oleh Kapten Zen.“Hidup Kapten Zen! Panjang umur Kapten Zen!” seru awak-awak.
Sumber: Bobo 39/XXXI

Untuk dapat menceritakan kembali cerita anak di atas, perhatikan halhal berikut!
1. Judul cerita.
2. Hal-hal yang menarik dari cerita-cerita tersebut.
3. Hal-hal yang tidak menarik dari cerita.
4. Tokoh-tokoh dalam cerita.
5. Watak para tokoh.
6. Runtutan cerita, yaitu kapan terjadinya dan di mana kejadiannya.
7. Konflik dalam cerita.
8. Penyelesaian dalam cerita.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Sebutkan judul cerita di atas!
2. Siapakah tokoh dalam cerita di atas?
3. Bagaimana perwatakan mereka?
4. Bagaimana runtutan ceritanya?
5. Kapan terjadinya cerita?
6. Di mana kejadian tersebut terjadi?
7. Konflik apa yang terjadi?
8. Bagaimana penyelesaiannya?
9. Sebutkan hal-hal yang menarik dalam cerita di atas!
10. Sebutkan hal-hal yang tidak menarik dalam cerita di atas!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Membaca Teks Cerita Anak