Kumpulan Bahan dan Perangkat Ajar Bahasa Indonesia SMP/MTs Kur. 13

Sejarah dan Periodisasi Sastra Indonesia



ilmubindo.com_ Kali ini admin akan  membagikan artikel tentang "Sejarah dan Periodisasi Sastra Indonesia". Semoga artikel kali ini dapat membantu Bapak dan Ibu guru mata pelajaran bahasa Indonesia dalam mencari referensi materi sejarah dan periodisasi sastra Indonesia. 

A. Sejarah Sastra
Sebuah sastra dapat dikategorikan ke dalam sastra lama dan sastra modern. Sastra lama adalah jenis sastra yang berkembang pada masa masyarakat tradisional. Misalnya: pantun, syair, hikayat, legenda, mite, sage, parabel, dan fabel. Sastra modern adalah sastra yang hidup dan berkembang di kehidupan masyarakat modern. Misalnya: prosa, cerpen, novel, roman, puisi, dan drama.

Perbedaan Sastra Lama dan Modern bisa kalian lihat di tabel berikut ini.
Aspek
Sastra Lama
Sastra Modern

bentuk
terikat
bebas

tema
istana sentris, kaku
masyarakat sentris, kreatif

bahasa
Melayu, Arab
Indo - Eropa

latar budaya
anonim
nonim

perkembangan
statis, lisan
dinamis, tulis


Sejarah dan Periodisasi Sastra Indonesia
www.ilmubindo.com

B. Periodisasi Sastra Indonesia
Sastra Indonesia populer bersamaan dengan bahasa Indonesia diperkenalkan pada masa Sumpah Pemuda tahun 1928. Dalam sejarah sastra Indonesia dikenal dengan istilah "Sastra Nusantara" dan "angkatan".

Jika sastra nusantara merupakan bentuk sastra yang dikenal sebelum tahun 1928 maka istilah angkatan merupakan usaha pengelompokkan sastra dalam masa tertentu.

a. Angkatan 20
Angkatan 20 merupakan angkatan yang lahir sekitar tahun dua puluhan. Angkatan ini populer dengan angkatan Balai Pustaka karena pada masa itu penerbit yang paling banyak dengan sastra adalah Balai Pustaka.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan 20 ini di antaranya:
  1. Siti Nurbaya 1922 (Marah Rusli)
  2. Azab dan Sengsara 1922 (Merari Siregar)
  3. Salah Asuhan 1928 (Abdul Muis)
  4. Kertajaya 1932 (Sanusi Pane), dan lain-lain.
b. Angkatan 30
Angkatan 30 hampir sama dengan angkatan sebelumnya yang lahir sekitar tahun tiga puluhan. Angkatan ini populer dengan angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane ketiganya mendapat sebutan tiga serangkai pelopor Pujangga Baru.

Perbedaan yang menonjol dari Balai Pustaka adalah Pujangga Baru lebih menonjolkan jiwa dinamis, individualis, tidak terikat tradisi, dan lebih menonjolkan seni.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan Pujangga Baru ini, di antaranya:
  1. Layar Terkembang 1936 (Sutan Takdir Alisyahbana)
  2. Anak Perawan di Sarang Penyamun 1942 (Sutan Takdir Alisyahbana)
  3. Buah Rindu 1941 (Amir Hamzah)
  4. Di Bawah Lingdungan Ka'bah 1938 (Hamka), dan lain-lain.
c. Angkatan 45
Angkatan 45 diperkenalkan oleh Rosihan Anwar di sebuah majalah sastra Siasat pada tahun 1950. Angkatan ini populer dengan angkatan Chairil Anwar karena beliau sangat gigih memperjuangkan sastra pada saat itu. Selain itu, juga sering disebut angkatan Kemerdekaan karena lahir bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Angkatan ini mempunyai ciri khas, yaitu bebas dari aturan, individualistis, univeralistik, realistik, dan futuristik.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan 45 ini, di antaranya:
  1. Deru Campur Debu (Chairil Anwar)
  2. Atheis (Achdiat Miharja)
  3. Dari Ave Maria ke Jalan Lain di Roma (Idrus)
  4. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay (H. B. Jassin), dan lain-lain.
 d. Angkatan 66
Angkatan 66 hampir sama dengan angkatan sebelumnya yang lahir sekitar tahun enam puluhan. Angkatan 66 dikemukakan oleh H.B Jassin dan mengangkat Taufik Ismail sebagai pelopornya. Angkatan ini lahir di tengah-tengah kekacauan bangsa Indonesia yang sedang menata kehidupannya setelah kemerdekaan. Sebagian besar karya angkatan 66 ini berisikan tentang protes terhadap keadaan yang kacau dalam kehidupan bermasyarakat.

Hasil karya yang terkenal dari angkatan 66 ini, di antaranya:
  1. Tirani dan Benteng (Taufik Ismail)
  2. Pahlawan Tak Dikenal (Toto Sudarto Bachtiar)
  3. Balada Orang-Orang Tercinta (W.S. Rendra)
  4. Malam Jahannam (Motinggo Busye)
  5. Kapai-kapai (Arifin C, Noer).
Demikianlah yang dapat admin bagikan, semoga bermanfaat. Terima kasih.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah dan Periodisasi Sastra Indonesia

About / Sitemap / Contact / Privacy / Disclaimer Speed Up Template