Bahasa Indonesia SMP/SMA Kurikulum 2013

Perbedaan antara Dongeng dan Fabel | Bahasa Indonesia SMP 2019


Daftar Isi [Tampil]
ilmubindo.com_ Kali ini admin akan membagikan perbedaan antara dongeng dan fabel. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang perbedaan antara dongeng dan fabel. Dan harapannya apa yang admin bagikan ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi kemajuan belajar anak didik di sekolah. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Perbedaan antara Dongeng dan Fabel | Bahasa Indonesia SMP 2019
www.ilmubindo.com

Perbedaan antara dongeng dan fabel:
Dongeng adalah cerita rekaan yang bersifat khayal dan tidak masuk akal. Sedangkan fabel adalah dongeng tentang binatang yang berperilaku seperti manusia sebagai ajaran moral yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Legenda dapat berupa dongeng tentang orang suci yang di dalamnya terdapat cerita asal-usul nama atau suatu tempat.

Macam-Macam Dongeng:
1. fabel
2. legenda
3. mite
4. sage
5. parabel
6. pelipur lara

Contoh: Cerita Kancil
a. Kancil Mencuri Timun
b. Kancil Menipu 100 Buaya
c. Kancil Menipu Harimau Lapar

Contoh Fabel:

Seorang Pedagang dengan Seekor Ular

Seorang pedagang yang penyayang binatang berangkat ke pasar bersama seekor kuda yang membawa dagangannya. Karena masih terlalu pagi, ia beristirahat dan membuat api unggun. Kebetulan angin bertiup cukup kencang hingga bunga-bunga api beterbangan cukup jauh.

Setelah terang, berangkatlah pedagang itu dari tempat istirahatnya. Ia agak terkejut ketika dilihatnya rumput dan semak-semak terbakar. Ketika ia beranjak pergi beberapa langkah, ia terkejut oleh suara minta tolong yang ternyata seekor ular besar yang telah terkurung api. Pedagang agak ragu sebentar sebab ular umumnya bertabiat jahat, tidak tahu berterima kasih, apalagi membalas budi baik. Tetapi karena rasa sayangnya pada binatang, akhirnya ditolonglah juga ular itu.

Setelah ular terlepas dari bahaya, berkatalah ular, "Tahukah kau, hai manusia, bahwa kebaikan dibalas dengan kejahatan?"

"Apa maksudmu?" jawab pedagang.
"Aku hendak membunuhmu dengan taring berbisaku yang sudah lama tidak kugunakan sehingga terasa sakit."

"Hai, Ular! Ingatlah! Engkau masih dapat hidup karena pertolonganku. Kini engkau akan membunuhku. Di mana rasa terima kasihmu?" kata pedagang meradang.

"Terserah apa katamu. Yang jelas engkau tidak dapat lolos dari ketajaman gigi berbisaku," sahut ular lebih mendongakkan kepalanya sampai dekat dengan muka pedagang.

"Baiklah, kalau begitu. Tetapi aku minta tiga saksi yang mau membenarkan niatmu!"

Mereka pun lalu mencari tiga saksi itu. Mula-mula dijumpainya kerbau yang ditambat. Kata ular. "Hai, Kerbau, apa pendapatmu? Apakah sudah layak kebaikan dibalas dengan kejahatan?"

"Untuk menjawab pertanyaanmu, dengarkanlah ceritaku!" seru kerbau. "Manusia itu tak tahu berterima kasih. Buktinya, aku alami sendiri. Ketika aku masih kuat, aku dipeliharanya. Waktu aku punya anak, air susuku pun diperahnya. Tetapi setelah aku tua dan tidak sekuat kerika aku masih muda, aku dilepas begitu saja agar mencari makan sendiri. Namun, melihat aku gemuk, aku ditangkapnya untuk dijualnya seperti sekarang ini. Jadi, sepantasnya kalau manusia yang pernah menolongmu itu engkau bunuh!" kata kerbau menyudahi ceritanya.

"Kau dengar?" kata ular. "Tepati janjimu dan bersiaplah engkau untuk mati.'

Ular melihat sekeliling. Tampak kepadanya sebatang pohon nyiur. Mereka pergi ke tempat pohon nyiur tumbuh, ular bertanya: "Hai, pohon nyiur, apakah balasan budi baik?"

Pohon nyiur menjawab: "Manusia menjadikan kejahatan sebagai balasan untuk kebaikan. Sudah demikian sifat manusia.  Dengarkan apa sebabnya. Buahku yang mudah memberikan minuman yang sedap manusia. Semuanya menyukai air kelapa muda. Buah kelapa yang tua dijadikan minyak yang hampir setiap hari digunakan oleh mereka. Tempurung, sabut, daun yang muda maupun yang tua atau kering dapat dijadikan beraneka keperluan manusia sehari-hari. Sekarang setelah aku tua dan tak berbuah lagi apa yang diperbuatnya? Akan ditebangnya aku esok hari. Batangku akan dijadikan jembatan atau kasau rumah. Saguku yang ada di bagian ujung batangku diberikannya kepada ayam dan lembunya. Dan, berakhirlah nyawaku esok hari".

"Aah, sekarang engkau baru percaya bahwa engkau baru percaya bahwa akulah yang benar," ujar ular pula. "Tahukah kita bagaimana semestinya kebaikan harus dibalas. Tentang saksi-saksi sudah cukup dua itu. Bersiaplah, supaya engkau dapat aku gigit sampai mati."

"Ular! Siapa dapat mengatakan bahwa kedua saksi itu dapat dipercaya? Ini belum dapat kita sahkan. Sebab itu, untuk yang terakhir kali dan supaya kita tidak membuang-buang darah orang yang tidak berdosa, kini ambil saksi seorang lagi yang akan kutunjukkan sendiri. Sekiranya aku bersalah, aku bersedia meninggalkan dunia yang fana ini."

Ular agak berkecil hati, tetapi diterima juga usulan itu.

Seekor kancil yang sedang mencari makan sampai ditempat perbantahan itu lalu berseru: "Hai, mengapa kalian berbantah"?

Ketika pedagang melihat kancil, ia berkata kepada ular. "Inilah saksi penghabisan. Kita dengarkan apa yang dikatakannya.!"

Pedagang mulai menjelaskan hal itu, tetapi belum habis ia bercerita, kancil menyela: "Saudagar, tahukah engkau bahwa balasan kebaikan tak lain adalah kejahatan. Sudah kau tolong ular itu dari bahaya maut, sudah sepantasnyalah ia berbuat jahat kepadamu."

"Hai, Kancil, dengarlah dulu," jawab pedagang itu, lalu dibentangkannya perihal itu sejelas-jelasnya.

"Saudagar, kelihatannya engkau seorang yang cerdik. Bagaimana pula engkau dapat menceritakannya hal yang bikan-bukan."

Ular itu menyela: "Benar semua yang dikatakannya itu. Itulah pundi-pundi yang menyelamatkan aku dari bahaya api besar itu." 

Kancil meneruskan perkataannya: "Siapa pula yang percaya binatang sebesar ini dapat masuk ke dalam pundi-pundi sekecil itu. Seekor tikus pun rasanya takkan dapat masuk kedalamnya."

"Sangat mudah untuk memahaminya," jawab ular itu. "Sekiranya engkau tidak percaya, saya akan masuk ke dalam kantong itu."

"Baiklah! Seru kancil. Kalau dengan mata kepalaku sendiri haruslah kuputuskan perkara ini."

Untuk menegaskan apa yang dikatakan oleh ular, pedagang itu membuka pundi-pundi dan ular menjalar ke dalamnya karena ia percaya akan janji kancil. Ketika kancil melihat ular itu telah berada dalam kantong kulit itu, ia berbisik kepada pedagang. "Kawan, telah tertangkap musuhmu. Pergunakanlah kesempatan ini dan jangan engkau lepaskan dia."

Mendengar nasihat kancil, diikatnya erat-erat lubang kantong itu, dihempaskannya sekeras-kerasnya kantong itu di atas batu sehingga matilah ular yang tidak tahu berterima kasih itu. Terhindarlah manusia itu dari bahaya bisanya dan terlepas dari keganasan ular. Hukum alam tetap berlaku, Budi baik harus dibalas dengan kebaikan juga".

Demikianlah yang dapat admin bagikan tentang perbedaan antara dongeng dan fabel. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang perbedaan antara dongeng dan fabel. Semoga bermanfaat dan terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Perbedaan antara Dongeng dan Fabel | Bahasa Indonesia SMP 2019

Beranda / Google.com / Google.co.id / Blogger.com /