Bahasa Indonesia SMP/SMA Kurikulum 2013

Pengertian Cerita Anak, Latar Cerita, Watak Tokoh, dan Analisis Perwatakan



ilmubindo.com | Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang pengertian cerita anak, latar cerita, watak tokoh, dan analisis perwatakan. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang pengertian cerita anak, latar cerita, watak tokoh, dan analisis perwatakan. Dan harapannya apa yang admin bagikan ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan belajar anak didik dalam memahami pengertian cerita anak, latar cerita, watak tokoh, dan analisis perwatakan.

Pengertian Cerita Anak, Latar Cerita, Watak Tokoh, dan Analisis Perwatakan
www.ilmubindo.com

Pengertian Cerita Anak

Cerita anak bukanlah cerita tentang anak tetapi cerita untuk anak. Jadi, bisa saja tokohnya bukan anak-anak dengan dengan syarat ceritanya bisa diterima oleh anak-anak. Cerita anak yang menarik harus jelas, hidup, dan berkesan atau menyentuh perasaan anak. Cerita anak yang bermutu adalah cerita yang isi dan nilainya universal (menyeluruh) dan abadi sepanjang zaman. Cerita anak bertujuan sebagai sarana pendidikan moral, budi perkerti, dan nilai-nilai luhur.

Latar Cerita

Segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana, dan lingkunan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dalam cerita meliputi, latar waktu, latar tempat, latar suasana, dan latar sosial. Tokoh dan latar dalam cerita bermanfaat untuk membantu memahami ini persoalan yang menjadi dasar dalam cerita.

Watak Tokoh

Watak tokoh adalah sifat atau karakter tokoh. Perwatakan adalah cara pengarang menggambarkan watak tokoh dalam ceritanya. Mengenal perwatakan akan sangat membantu dalam memahami inti persoalan cerita. Manfaat mengenali perwatakan adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara perilaku tokoh dengan karakternya.

Perwatakan dapat dianalisis berdasarkan dimensi (matra/ukuran) sebagai berikut:
  1. psikologis atau psikis, yaitu berkaitan dengan mentalitas, norma moral, watak, kecerdasan, keinginan, keahlian khusus, dan lain-lain.
  2. fisiologis atau fisik, yaitu jenis kelamin, umur, keadaan, dan ciri tubuh, raut muka, dan lain-lain.
  3. sosiologis atau sosial, yaitu status sosial, pekerjaan, jabatan, kepercayaan, aktivitas sosial, dan lain-lain.
Contoh Cerita
 
Harapanku Pupus di Pulau Kecil Nusa Penida

Pernahkah terbayang di benak kalian bisa menghabiskan waktu dengan orang yang paling kalian benci di dunia ini? Jika pernah, pasti kalian akan merasa bahwa dunia telah kiamat. Aku rasa kali ini kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa memahami isi perasaan kalian. Bagaimana tidak hal semacam ini sudah lama aku alami bahkan di setiap detik, menit, jam, maupun hari. Dan apakah kalian tahu? orang yang paling aku benci di dunia ini adalah adikku sendiri. Ia adikku, adik tiriku. Perasaan benci itu berawal dari pernikahan kedua orang tua kami, ayahku sangat mencintai bundanya Alia (nama adik tiriku) katanya sih cinta pada pandangan pertama waktu ketemu di pulau kecil nusa penida. Tempat wisata yang jauh dari kesan keramaian dan hiruk pikuk kemacetan kota metropolitan seperti Jakarta ini. Apa mungkin cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada? Kalau ada bagaimanakah rasanya?

Oh ya! sampai lupa aku belum mengenalkan diriku pada kalian. Hem, hem perkenalkan namaku Ditan Rama Diputra, seorang pelajar dari SMA yang cukup terkemuka di Jakarta, dengan wajah tampan, kulit putih, dan senyum yang amat manis. Ada yang minat? Kalo ada ni nomor hempon me: 081999, bercanda kok. Jangan marah yah! Ayo lanjut. Makanan favoritku betutu sambel hijau dari Bali dan Ledok dari Nusa Penida yang sering dibuat oleh nyokap tiri ketika mengingat kenangan bersama Pak Wayan sahabat sekilas yang dijumpai nyokap dan bokap waktu di Nusa Penida, aku ahli dalam segala bidang, terlebih lagi aku selalu menang dalam segala permainan baik game online, sepak bola, futsal, basket, kriket, bahkan panco sekalipun.

Tak ada gading yang tak retak artinya pasti tahu kan? ya aku juga jago termasuk dalam kelas manusia itu walau aku jago memainkan berbagai macam permainan tapi aku tidak bisa dan tidak pernah mau memainkan permainan ini! Permainan yang bisa membuat seseorang terluka, apa kalian bisa menebak permainan apakah itu? salah, bukan. Apa kalian sudah menyerah? Jawabannya adalah memainkan perasaan seseorang. Bukan bermaksud sok atau ingin mendapat pujian dari kalian tapi bagiku perasaan bukan hal yang bisa dimainkan bukan juga barang yang seenaknya diperlakukan, persaan itu patut dijaga, supaya kelak bisa digunakan untuk menyayangi dan mencintai malaikat pendampingmu di dunia ini.

Pertama libur semester merupakan hari peringatan kematian bunda di hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun nyokap tiriku. Bagiku tante Nia adalah orang yang dikirim Tuhan untuk aku dan ayah sebagai pengganti bunda, aku sangat menyayangi tante Nia walau sampai detik ini aku belum bisa menyebut dia dengan panggilan bunda tapi ia tidak pernah merasa keberatan. Kehadirannya di rumah ini membuat hari-hariku indah kecuali satu orang yang tidak pernah aku ingin menjadi bagian dari anggota keluargaku kalian pasti tahu kan, iya Alia Nia Winata.

Sarapan pagi telah disiapkan, suasana hening di saat makan yang terdengar hanya bunyi sendok dan pisau yang memotong roti, kata ini terucap begitu saja dari mulutku.
"Selamat ulang tahun Bunda Nia".

Dua pasang bola mata melotot ke arahku. Mereka terdiam, tidak ada respon. Tante Nia hanya mengeluarkan setetes air mata, yang meluncur ke pipinya. Dengan bibir sedikit tersenyum. Aku merasa bingung dan bertanya-tanya kenapa ia menangis apa aku telah menyakiti hatinya?
"Maaf Bun, jika Rama membuat Bunda menangis! tapi jujur Rama tidak bermaksud begitu".
Ia menggelengkan kepala kemudian memeluk Rama.

"Terima kasih sayang air mata yang menetes ini adalah air mata kebahagiaan untuk ucapan yang selam dua tahun terakhir ini yang ingin Bunda dengar dari mulut kamu".
"Ayah merasa bahagia Ram mendengar kata itu keluar dari mulut jagoan kecil ayah yang sudah mulai dewasa dan mau menerima Nia sebagai ibu kamu".  timpal ayah.
"Sebenarnya sejak ayah dan bunda Nia menikah aku ingin sekali memanggil Bunda Nia dengan sebutan Bunda, tapi aku takut yah" Terdiam.
"Kamu takut kenapa Ram?"

Rama mencoba untuk bicara dengan suara gemetar "Aku takut jika aku mulai membuka hatiku, dan membiarkan Bunda Nia menyayangiku, menganggapku sebagai anaknya. Aku akan melupakan Bunda yang telah melahirkan bukan hanya Bunda Nia dan menganggap dia sebagai Ibu Kandungku sendiri, dan kemudian pergi meninggalkan aku sama seperti Bunda, bagaimana bisa aku bertahan dan melanjutkan hidup ini"kataku dengan mata yang digelinangi air mata.

Mendengar hal itu Bunda semakin terisak kemudian memelukku dengan semakin erat, ia begitu terkejut dan merasa bahagia. Atas kejadian ini ayah mencoba menjelaskan kepadaku bahwa sesungguhnya tiada manusia yang ingin meninggalkan orang yang mereka sayangi. Itu semua telah menjadi hukum alam atau suratan takdir yang telah dibawa oleh manusia itu sendiri semenjak ia dilahirkan.

Sebagai perayaan karena aku telah memanggil tante Nia dengan sebutan Bunda, ayah mengajak kami sekeluarga untuk berlibur. Dan tempat yang dipilih adalah Bali, tempat kenangan termanis dalam hidup pasangan pengantin paruh baya ini. Sebagai anak, aku harus mengalah terlebih lagi Bali juga tempat favoritku. Di sana aku bisa menyalurkan hobi baru seperti mencoba bermain skiy atau mencoba menunggangi sang kuda besi keliling perairan bali (motor sekiy). Kurasa liburanku tidak akan berkesan jika si bawel (Alia) ternyata tinggal di Bali.

Sebenarnya aku tidak pernah mengenal sosok Alia karena sejuurnya selama pernikahan kedua orang tua kami Alia lebih memilih ikut dengan kerabat papanya ketimbang ikut dengan Bunda Nia. Aku bisa membenci Alia padahal kami belum bertatap muka secara langsung karena ayah selalu membandingkanku dengannnya dalam segala bidang. Dalam bidang pelajaran, Alia selalu menjadi juara 1 sedangkan aku hanya mendapat peringkat 3 itupun hanya di kelas. Alia sangat mandiri dan aku manja, Alia nggak pernah ngeboros dan aku selalu hura-hura, Alia inilah, itulah, beginilah, begitulah. Pokoknya yang bagus-bagus selalu Alia yang jelek-jelek pasti datangnya ke aku. Aku merasa Alia itu telah menghancurkan harga diriku di depan ayah, makanya aku sangat, sangat membecinya.

Pekerjaan kantor yang mendesak membuat ayah tidak bisa ikut pergi. Sedangkan Bunda sendiri diminta ayah untuk tetep di Jakarta bersamanya supaya ia tidak kesepian, terpaksa aku berangkat sendiri menuju Bali.

Oleh: Wayan Nilawati

Demikianlah yang dapat admin bagikan tentang pengertian cerita anak, latar cerita, watak tokoh, dan analisis perwatakan. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami pengertian cerita anak, latar cerita, watak tokoh, dan analisis perwatakan. Selamat belajar, semoga bermanfaat, dan terima kasih.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian Cerita Anak, Latar Cerita, Watak Tokoh, dan Analisis Perwatakan

Beranda / Google.com / Google.co.id / Blogger.com /