Bahasa Indonesia SMP/SMA Kurikulum 2013

Unsur-Unsur Kebahasaan Buku Fiksi dan Nonfiksi (Revisi Terbaru)



Daftar Isi [Tampil]
ilmubindo.com | Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan unsur-unsur buku fiksi dan nonfiksi dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas 8 (delapan) semester 2. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang unsur-unsur kebahasaan buku fiksi dan nonfiksi dalam bahasa Indonesia. Dan harapannya, apa yang admin bagikan kali ini dapat memberikan dampak baik bagi perkembangan dan kemajuan belajar anak didik dalam memahami unsur-unsur buku fiksi dan nonfiksi.

Unsur-Unsur Kebahasaan Buku Fiksi dan Nonfiksi (Revisi Terbaru)
www.ilmubindo.com

Unsur kebahasaan kedua jenis buku fiksi dan nonfiksi tentu memiliki perbedaan masing-masing. Karya fiksi mempunyai unsur kebahasaan yang lebih fleksibel dibandingkan dengan karya nonfiksi.

Unsur Kebahasaan Karya Fiksi

Karya fiksi boleh menggunakan kata-kata tidak baku. Karya fiksi bersifat imajinatif dan merupakan rekaan yang dipaparkan berdasarkan pandangan subjektif sang penulis. Salah satu unsur yang menonjol dalam karya fiksi adalah penggunaan ungkapan (idiom) dan majas. Ungkapan merupakan makna baru yang berbeda dengan makna asal. Majas merupakan gaya bahasa yang dapat memperindah kalimat dan menambah rasa tertentu pada pembaca. 

Berikut ini akan dijelaskan perbedaan antara ungkapan dan majas. Adapun perbedaan ungkapan dan majas tersebut adalah sebagai berikut.

Pengertian Ungkapan (Idiom)

Ungkapan merupakan gabungan kata yang menimbulkan makna baru yang memiliki makna khusus bersifat konotasi (kiasan) sehingga tidak dapat diartikan secara sebenarnya.
Makna idiomatis atau idiom sering disejajarkan dengan ungkapan. Hal ini bisa dibenarkan karena keduanya merupakan gabungan kata yang tidak ada hubungan makna dengan kata pembentuknya.

Contoh Ungkapan


Bertekuk lutut (menyerah)
Panjang tangan (suka mencuri)
Buah bibir (bahan pembicaraan)
Kabar angin(kabar belum jelas kebenarannya)

Pengertian Majas

Majas atau ragam gaya bahasa merupakan ciri khas cara pengarang mengekspresikan jiwa perasaan dan pikirannya dalam media bahasa. Kekhasan gaya bahasa tersebut terletak pada pemilihan kata-kata yang tidak secara langsung menyatakan makna yang sebenarnya. Majas dapat dibedakan menjadi majas perbandingan, penegasan, sindiran, dan pertentangan.

Macam-Macam Majas

a. Majas Perbandingan

1. Personifikasi
Majas yang melukiskan sebuah benda mati seakan-akan hidup menyerupai sifat makhluk hidup.
Misal: 
Embun pagi menyapa
Pena menari-nari di atas kertas
2. Hiperbola
Majas yang melukiskan keadaan dengan sesuatu yang hebat atau melebih-lebihkan.
Misal:
Suaranya meledakkan kuping ini
Ceramahnya membius warga
3. Metafora
Majas yang membandingkan benda dengan melukiskan secara langsung atas dasar sifat yang sama.
Misal:
Jago merah (api)
Raja siang (matahari)
4. Eufemisme
Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan kata-kata yang lebih halus dan lembut.
Misal:
Tunawicara (bisu)
Sekelompok (gerombolan)
5. Sinekdoke
Pars Prototo, majas yang melukiskan keadaan sebagian untuk semua atau seluruhnya.
Misal:
Lima ekor sapi
Sehelai rambut
Totem pro parte, majas yang melukiskan keadaan semua atau keseluruhan, tetapi hanya mewakili untuk sebagian.
Misal:
Indonesia menang melawan China
SMP  N 1 Jakarta menjuarai lomba baca puisi
6. Litotes
Majas yang memperkecil atau melemahkan dan kenyataan kebalikannya.
Misal:
Singgahlah sebentar di gubukku ini
Setitik air inilah yang bisa kami berikan di malam damai.
7. Asosiasi
Majas yang mempunyai nama lain simile melukiskan suatu keadaan tertentu karena persamaan sifat yang dicirikan dengan kata bagai, bak, seperti, laksana.
Misal:
Lesu bagai bulan kesiangan tingkah lakunya
Bagai pinang di belah dua
8. Metonimia
Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan menggunakan nama merek, ciri khas, atau atribut.
Misal:
Nurul senang memakai Carvil
Herman pulang naik Pajero
9. Alegori
Majas yang memperbandingkan sesuatu dengan membentuk kesatuan yang menyeluruh.
Misal:
Nakhoda yang berlayar mengarungi bahtera hidup.
suami = nakhoda
Bahtera = rumah tangga

b. Majas  Penegasan


1. Pleonasme
Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi.
Misal:
Juara 1 diharapkan naik ke atas podium.
2. Retorika
Majas yang melukiskan keadaan dengan menggunakan kata-kata yang tidak memerlukan jawaban.
Misal:
Kamu ingin istri kaya atau cantik?
3. Paralelisme
Majas yang melukiskan keadaan dengan kata yang berulang-ulang dalam puisi.
Misal:
Bunga merah merona, bunga desaku harum semerbak, bunga menyentuh raga ini bunga aku datang.
4. Repetisi
Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan pengulangan kata-kata yang digunakan dalam pidato.
Misal:
Merdekla semboyanku!
Merdeka harus kita jaga!
Merdeka saudaraku?
5. Klimaks
Majas yang melukiskan suatu keadaan secara berturut-turut dari awal sampai keadaan puncak.
Misal:
Terlihat kedua orang itu dari bertemu, duduk, bercakap-cakap, bertengkar, sampai keduanya saling menampar.

c. Majas Sindiran

1. Ironi
Majas yang melukiskan keadaan yang menyatakan sebaliknya dari kenyataan dengan maksud menyindir.
Misal:
Wah, pagi benar kamu berangkat sampai-sampai bel istirahat berbunyi
Gemuk bener badan kamu, sampai-sampai tulang rusukmu kelihatan.
2. Sinisme
Majas seperti ironi, tetapi lebih menjurus kasar.
Misal:
Huh, kamu itu kerja apa!
Itukah pengorbanan, gombal!
3. Sarkasme
Majas sindiran yang melukiskan keadaan paling kasar langsung menusuk perasaan.
Misal:
Goblog amat sih,
Jangan tolol terus!

d. Majas Pertentangan

1. Antitesis
Majas yang berlawanan arti untuk melukiskan suatu keadaan dengan kepaduan kata.
Misal:
Jelek atau cantik dia tetap istriku
Muda atau tua aku tetap tampan
2. Paradoks
Majas yang melukiskan suatu keadaan seolah-olah berlawanan arti karena objeknya berbeda.
Misal:
Ramai kota ini tidak bisa mengubah hati sunyi ini.
Akalnya kosong di tengah kelas yang penuh sesak.
3. Kontradiksi Interminus
Majas yang melukiskan suatu keadaan pertentangan dengan menjelaskan semuanya.
Misal:
Semua pasien sudah sembuh, kecuali Paijo yang sedang kritis.

Unsur Kebahasaan Karya Nonfiksi

Karya nonfiksi pada umumnya menggunakan ragam bahasa baku karena bersifat ilmiah dan berdasarkan bidang keilmuan tertentu. Teori, hasil temuan, atau penelitian dituliskan secara lugas dan jelas dalam karya nonfiksi. Penulisan karya nonfiksi banyak menggunakan istilah-istilah atau kata-kata yang khas dalam bidang tertentu. Dalam karya nonfiksi tidak menggunakan ungkapan dan majas karena dapat mengaburkan makna kata yang sebenarnya. Namun, dalam karya nonfiksi dapat ditemukan penggunaan peribahasa yang bertujuan memperjelas atau membandingkan suatu hal.

Pengertian Peribahasa

Peribahasa merupakan sekelompok kata yang susunannya tetap, tidak bisa berubah-ubah, untuk mengiaskan atau menggambarkan keadaan dengan makna tertentu.

Contoh Peribahasa

Mencari jarum dalam jerami (pekerjaan yang siap-sia)
Besar pasak daripada tiang (besar pengeluaran daripada penghasilan)
Air beriak tanda tak dalam (orang yang banyak bicara  biasanya bodoh)


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Unsur-Unsur Kebahasaan Buku Fiksi dan Nonfiksi (Revisi Terbaru)

Beranda / Google.com / Google.co.id / Blogger.com /