Bahasa Indonesia SMP/SMA Kurikulum 2013

Pengertian Majas | Cara Menganalisis Unsur Kebahasaan Cerita Pendek dengan Menggunakan Majas


Daftar Isi [Tampil]
ilmubindo.com | Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang cara menganalisis unsur kebahasaan teks cerita pendek dengan menggunakan majas. Semoga apa yang admin bagikan ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang cara menganalisis unsur kebahasaan teks cerita pendek dengan menggunakan majas. Dan harapannya apa yang admin bagikan ini dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan belajar anak didik di sekolah, khususnya dalam menganalisis unsur kebahasaan teks cerita pendek dengan menggunakan majas.

Pengertian Majas | Cara Menganalisis Unsur Kebahasaan Cerita Pendek dengan Menggunakan Majas
www.ilmubindo.com

Pengertian Majas

Majas merupakan pemanfaatan kata atau kalimat untuk memeroleh efek tertentu. Dengan majas, teks akan memiliki efek lebih indah, imajinatif, ataupun ekspresif. Berikut beberapa majas yang sering digunakan dalam cerpen.

Jenis-Jenis Majas
 
1. Ironi
 
Ironi adalah majas yang menyatakan suatu hal secara kebalikan dengan maksud menyindir.
 
Contoh: 
Manis sekali kopi ini, gula murah yah harganya.

2. Personifikasi
 
Personifikasi adalah majas yang mengumpamakan benda mati sebagai manusia (person).
 
Contoh:
Daun kelapa di pantai itu, seakan-akan melambai padaku.

3. Metafora
 
Metafora adalah majas yang menggunakan perlambangan untuk menyatakan sesuatu.
 
Contoh:
Ayahnya bekerja membanting tulang demi masa depan anak-anaknya.

4. Simile
 
Simile adalah majas yang menyamakan suatu objek rumit dengan objek lain yang sederhana. Tujuannya adalah agar pembaca dapat membayangkan dengan jelas objek yang dimaksud.
 
Contoh:
Bentuk alisnya aneh, seperti semut besar berbaris.

5. Hiperbola
 
Hiperbola adalah majas yang memberi makna secara berlebihan, fungsinya untuk menyatakan sesuatu dengan niat yang sangat kuat.
 
Contoh:
Suaranya menggelengar bagikan kilat yang akan menyambar.

6. Pleonasme
 
Pleonasme adalah majas yang menggunakan beberapa kata bersinonim secara bersamaan dalam satu kalimat. Fungsinya adalah memberi penekanan yang luar biasa pada suatu bagian.
 
Contoh:
Anak Kepala Desa sangat amat cerdas sekali.

7. Litotes
 
Litotes adalah majas yang merendah-rendahkan diri sendiri agar terkesan tidak sombong.
 
Contoh:
Maaf, kawan. Saya hanya dapat membawakan bingkisan sekadarnya.

8. Eufimisme
 
Eufimisme adalah majas yang menghaluskan kata-kata yang dianggap kasar atau kurang sopan.
 
Contoh:
Sejak bulan lalu, aku dibebastugaskan.

9. Repetisi
 
Repetisi adalah majas perulangan kata, frasa, atau kalimat yang dianggap penting. Fungsinya untuk memberi tekanan pada bagian yang diulang.
 
Contoh:
Aku pergi tanpamu, Aku datang tanpamu, Aku memetik gitar tanpamu, Aku hidup tanpamu, Aku mati tanpamu.

Contoh Cerpen:

Ibuku Sekuntum Cempaka 
dari Kepur 

Aku mengangguk. Sejak mendengar ibuku menangis tengah malam, gara-gara Nenek tidak menyukainya di rumah ini, tindakanku selalu ragu-ragu. Aku takut dimarahi nenek. Belakangan ini nenekku sangat cerewet. Seolah-olah beliau menghendaki kami segera meninggalkan rumah limas besar. Nenek tidak mau diganggu.
"Maman, kau belum mengambil keranjang rotan yang tergantung itu?"
Aku menggelang.
"Ambil kursi!"

 
Aku berlari ke arah kursi setelah memahami maksudnya. Ia menuyuruhku mengambil keranjang rotan. Nenek tidak mau lagi menolongku. Dengan susah payah aku menyeret kursi berukir dekat meja makan ke bawah keranjang rotan.
"Hati-hati, Maman, nanti lecet kursi antikku!" pekik Nenek.
Aku menoleh dan kulihat muka Nenek tidak manis, justru masam. Mengapa Nenek memusuhi aku? Apakah kesalahanku selama ini? Hatiku menjadi sedih. Saat itu aku ingin sekali dekat dengan Ibu.
Lepas magrib Ibu dan Ayah pulang dari sawah Nenek dan Kakek. Keduanya membantu mengolah sawah tanpa mendapat bagian padi. Hal ini termasuk kewajiban anak dan menantu di dalam keluarga.
"Kau sudah makan, Maman?" tanya Ibu begitu tiba di rumah.
"Belum, Bu."
"Belum? Mengapa?
"Nenek tidak mau menolong mengambilkan keranjang. Aku sendiri tidak dapat menjangkau tempat makanku. Nenek menyuruhku menggunakan kursi antiknya, tetapi aku tidak boleh menyeret benda mahal itu. Kata Nenek, kursi antiknya tidak boleh lecet."
"Tak apa-apa, nenekmu sedang sakit, Nak."
Sekali lagi ibuku memaafkan tindakan Nenek meskipun mengetahui buah hatinya kelaparan sejak pukul 6 pagi sampai lepas magrib. Ibu memelukku kuat-kuat sambil membisikkan kata-kata manis untuk menghibur hatiku yang tersinggung. "Man, jangan kau ceritakan kepada ayahmu kejadian di rumah hari ini, ya sayang?"
"Mengapa, Bu?"
"Kasihan ayahmu lelah di sawah. Jangan kau susahkan hatinya. Kita tidak boleh menambah berat bebannya."
"Buuu ...," aku tidak melanjutkan kalimatku.
"Hmmm, apa, Nak?"
"Oh, tidak, Bu, tak apa-apa."
Keesokan harinya, usai salat subuh kudengar orang bertengkar di paun. Yang disebut paun oleh penduduk dusun Tanjung Serian ialah seluruh ruangan yang ada di sekitar dapur. Aku berlari ke pintu tengah, antara ruang besar dan paun. kulihat Nenek berkacak pinggang sedang memberondong Ayah dengan kata-kata pedas dan kasar.
"Keluarkan ranjang jati dari kamar yang kalian tunggu!"
"Baik, sekarang juga aku akan keluarkan."
Ayah bergegas menuju kamar yang mereka tunggu. Ibu terkejut.
"Ada apa, Abang?"
"Mak meminta ranjang jati ini, Rum."
"Oh ya, kasihan saja, Bang." Suara Ibu tetap tenang.
Aku tidak melihat suatu perubahan pada air mukanya. Ucapannya sesuai dengan kata hatinya.Nenek menuju kamar yang ditempati ayah dan ibu. Sambil berkacak pinggang, dia membentak, "Segera keluarkan ranjang jati itu!"
Hari itu kakek sedang ke kota Palembang menemui sahabatnya, seorang pedangang tembakau yang kaya raya. Mereka akan kerja sama mendirikan perusahaan angkutan.
Ayah membongkar ranjang jati yang mereka pakai sejak menikah 10 tahun yang lalu. Aku pun lahir di ranjang itu. Ibu melipat selimut dan kain seprei tanpa rasa masgul, tanpa sakit hati, karena ranjang jati yang bagus itu memang bukan kepunyaan ibu dan ayah.
"Kakek kan baik pada Ibu."
"Semua isi rumah ini baik pada kita, Nak."
"Nenek?"
"Nenekm pun baik."
"Nenek ..., baik. Bu?" desakku.
"Memang baik, Man."
Aku tegang. Di mana pun berada ibuku tidak pernah menjelek-jelekkan mertuanya.

Dikutip dari Kumpulan Cerpen Ibu,
pengarang Aksara
 
Demikianlah yang dapat admin bagikan tentang cara menganalisis unsur kebahasaan cerita pendek menggunakan majas. Semoga artikel yang admin bagikan ini dapat bermanfaat khususnya peserta didik yang mencari referensi tentang unsur kebahasaan teks cerpen menggunakan majas. Terima kasih.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian Majas | Cara Menganalisis Unsur Kebahasaan Cerita Pendek dengan Menggunakan Majas

Beranda / Google.com / Google.co.id / Blogger.com /